Belantara Foundation Hosted a Forest Landscape Restoration Panel at the COP23 UNFCCC 2017

 

Belantara foundation, an Indonesian grants-making institution had the opportunity to host two panels at the Indonesia pavilion during the Conference of the Parties (COP) -23 United Nation Framework Convention on ClimateChange (UNFCCC) Fiji-Bonn that was held on 6-17 November 2017. This international conference was held in the heart of Bonn, one of the cities in West Germany where UN Campus is located. Approximately 300 – 400 hundred Indonesian delegations acted as the negotiators, panelists, observers, and committees were led by the Ministry of Environment and Forestry Government of Indonesia in attended the conference.

Indonesia is of the countries that participated in the country pavilion at the Bonn zone. The theme shows the power of “gotong-royong” to tackle climate change “A Smarter World: Collective Actions for A Changing”. In total, there were approximately 50 panels conducted by the Indonesia Pavilion, which involved inspirational national and international panelists. Moreover, on November 9th 2017, the first panel that Belantara hosted brought into the light the topic of the Public-Private Partnership in Forest Landscape Restoration Program. Six highly credible panelists were gathered to share their experience and knowledge about the topic. The session itself was moderated by Dr. Kartini Sjahrir.

Prof. Jatna SupriImage 1atna, Belantara Foundation’s Vice Chair of Board of Trustees, is the first panelist. He presented the foundation’s progress of public-private partnership initiatives in Forest Landscape Restoration program across Sumatra and Kalimantan. He also highlighted the importance of multi-stakeholder approach, which reflected by the foundation support in forming Multi-stakeholder forums involving actors such as, the government, NGOs, communities, as well as private sector in 5 provinces in Indonesia. The foundation has been supporting and agreeing to support 32 local NGOs (some formed in consortiums), several case studies of collaboration programs contributing to green growth agenda and local livelihoods improvements, ecosystem restoration, and protection.

Image 2

Tony Juniper and Walter Vergara are two international speakers were also shared their experience with regards to Public-private collaboration to conserve and restore the forest. Tony Juniper from Cambridge Institute for Sustainability Leadership provided an example from the Ivory Coast, where its potential in agriculture is threatened by unsustainable practices in the ecosystem. He further expressed the critical driver of change is to integrate and collaborative action at the level of landscapes. While, Walter Vergara, forests and climate specialist focused on the Global Restoration Initiative in Latin America discussed the Initiative of 20×20, a country-led effort to change the dynamics of land degradation in Latin America short-term goal to initiate restoration of 20 M ha by 2020.

Image 3

Furthermore, Dharsono Hartono, the CEO from PT. Rimba Makmur Utama shared about the Katingan-Mentaya Project, which is claimed as the world’s most massive REDD+ project that also protects fragile ecosystems and provides livelihood improvement. He highlighted the importance of building the initiative from the ground-up to ensure the effort providing demonstrable and memorable benefits to the communities while contributing to all 17 UN SDGs.

Lastly, a presentation by Hashim Djohohadikusumo & Dr. Willie Smits from Arsari Enviro titled Large Scale Agroforestry Approaches for Profitable Reforestation. They highlighted an innovative model of practical and scalable agroforestry based reforestation. The approach creates massive amounts of new, well-paid, permanent jobs, food security, environmental protection, rehabilitate degraded forests to multipurpose forests that have a higher biodiversity and carbon sequestration, and through cleverly designed logistical approaches creates a highly profitable scheme to tackle the world’s climate issues in tropical regions.

The Belantara’s panel received high appreciation from the audiences as they were very keen to know more about the topics. Numerous questions directed to the panelists for further detailed explanations of the showcases and initiatives and to what extent the cases could be implemented in other areas, and so forth. The response of this panel truly reflects the high anticipation and spirit of the broader community at a larger scale to contribute in climate change adaptation and mitigation actions through forest and land restoration initiatives in a manner that is economically benefitting and empowering the community. A multi-stakeholder approach in synergizing efforts for a sustainable green economic development.

Yayasan Belantara menjadi Tuan Rumah dalam Panel Restorasi Lanskap Hutan di COP-23 UNFCCC 2017

 

Yayasan Belantara, institusi penyalur dana hibah di Indonesia berkesempatan menjadi tuan rumah pada dua panel diskusi di paviliun Indonesia selama acara Conference of the Parties (COP) -23 United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Fiji-Bonn yang berlangsung 6-17 November 2017. Pertemuan internasional ini diadakan tepat di jantung kota Bonn, salah satu kota di Jerman Barat dimana terdapat Universitas PBB. Sekitar 300-400 delegasi Indonesia hadir sebagai negosiator, panelis, pengamat dan komite yang dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Indonesia.

Indonesia termasuk salah satu negara yang berpartisipasi pada paviliun negara di zona Bonn. Tema yang diangkat memperlihatkan kekuatan “gotong  royong” untuk mengatasi perubahan iklim “A Smarter World: Collective Actions for A Changing”. Secara keseluruhan, paviliun Indonesia menggelar 50 panel, dimana melibatkan panelis-panelis inspirasional dari level nasional maupun internasional. Pada 9 November 2017, panel pertama yang dipandu oleh Belantara menyoroti topik “kemitraan publik-swasta dalam program restorasi hutan”. Enam panelis yang sangat inspirasional berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka tentang topik tersebut. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Kartini Sjahrir.

Image 1Prof. Jatna Supriatna, selaku wakil ketua dewan Pembina Belantara menjadi panelis pertama yang membuka panel ini. Beliau menayangkan perkembangan inisiatif kemitraan publik-swasta pada program restorasi hutan di Sumatera dan Kalimantan. Beliau juga menggaris bawahi pentingnya pendekatan multipihak, yang tercermin dari dukungan Belantara dalam membentuk forum multipihak. Forum tersebut melibatkan berbagai actor, seperti, pemerintah, LSM, masyarakat, dan juga sektor swasta di 5 provinsi di Indonesia. Belantara telah mendukung dan menyetujui untuk membantu 32 LSM lokal (beberapa dibentuk dalam konsorsium), beberapa studi kasus mengenai program kolaborasi yang berkontribusi terhadap agenda pertumbuhan hijau dan perbaikan mata pencaharian lokal, restorasi ekosistem, serta perlindungan.

Image 2

Tony Juniper dan Walter Vergara, dua pembicara internasional ini berbagi pengalaman mereka terkait kolaborasi publik-swasta untuk melestarikan dan memulihkan hutan. Tony Juniper dari Cambridge Institute for Sustainability Leadership. Dalam penjelasannya, dia memberikan contoh dari Pantai Gading, dimana potensi pertaniannya terancam oleh praktik yang tidak berkelanjutan di dalam ekosistem. Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa pendorong perubahan yang penting adalah mengintegrasikan dan melakukan aksi kolaboratif di tingkat lanskap. Sementara, Walter Vergara, spesialis hutan dan iklim yang berfokus pada Inisiatif Restorasi Global di Amerika Latin membahas inisiatif 20×20. Inisiatif ini dilakukan oleh negara untuk mengubah dinamika degradasi lahan di Amerika Latin. Gagasan tersebut merupakan prospek jangka pendek untuk memulai pemulihan 20 M ha pada tahun 2020.

Image 3

Selanjutnya, Dharsono Hartono, CEO dari PT. Rimba Makmur Utama berbagi tentang Proyek Katingan-Mentaya. Proyek ini diklaim sebagai proyek REDD+ paling besar di dunia. Selain itu, proyek ini juga melindungi ekosistem yang rentan dan memberikan perbaikan mata pencaharian. Dia menyoroti pentingnya membangun inisiatif dari bawah ke atas. Hal ini dilakukan untuk memastikan upaya tersebut memberikan manfaat nyata dan terus diingat oleh masyarakat. Juga, sambil berkontribusi pada keseluruhan target dari 17 SDG.

Presentasi terakhir dari Hashim Djohohadikusumo & Dr. Willie Smits dari Arsari Enviro menutup panel ini. Keduanya menyuguhkan “Pendekatan Agroforestri Skala Besar untuk Reboisasi yang Menguntungkan” sebagai judul persentasi. Mereka menyoroti model inovatif dari reboisasi berbasis agroforestri praktis dan terukur. Pendekatan tersebut menciptakan sejumlah pekerjaan permanen, upah yang layak, ketahanan pangan, perlindungan lingkungan, rehabilitasi hutan yang terdegradasi, hingga hutan multiguna. Hutan multiguna yang dimaksud yang memiliki keanekaragaman hayati dan penyerapan karbon yang lebih tinggi. Selain itu, melalui pendekatan logistik yang dirancang cerdik, menciptakan skema yang sangat menguntungkan untuk mengatasi isu iklim dunia di daerah tropis.

Panel Belantara mendapat apresiasi yang luar biasa dari penonton yang sangat tertarik untuk memperoleh penjelasan lebih rinci. Penjelasan yang dimaksud tentang kejadian dan inisiatif yang dilakukan dan sejauh mana inisiatif tersebut dapat diterapkan di wilayah lain, dan sebagainya. Tanggapan panel ini mencerminkan antisipasi dan semangat komunitas yang lebih luas dalam skala yang lebih besar. Semangat untuk berkontribusi dalam adaptasi dan tindakan mitigasi perubahan iklim melalui inisiatif restorasi hutan dan lahan. Usaha ini dilakukan dengan cara yang dari sisi ekonomi menguntungkan dan memberdayakan masyarakat. Gagasan ini memperlihatkan Pendekatan multi-pihak dalam mensinergikan upaya pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan.