Blog Belantara

Dukungan dan Tata Kelola menuju Bumi #AsikTanpaSampahPlastik

Berbagai solusi untuk pengurangan sampah plastik telah dikampanyekan secara luas. Mulai dari penggunaan bahan yang mudah di daur ulang, pengelolaan sampah terpadu, dan berbagai metode lainnya. Namun, keefektifan pengurangan sampah plastik masih kurang efektif tanpa sinergi antara intervensi hulu dan hilir. Ketergantungan penggunaan plastik sekali pakai juga berkontribusi dalam peningkatan sampah plastik dari tahun ke tahun, yang berdampak serius pada lingkungan hingga memicu terjadinya perubahan iklim yang ekstrim.

Menurut laporan “Menghentikan Gelombang Plastik” oleh The Pew Charitable Trusts dan SYSTEMIQ, sampah plastik yang belum dikelola akan bertambah menjadi 239 juta ton pada tahun 2040 jika skenario Bisnis seperti Biasa (Business-as-Usual/BAU) masih dijalankan. Menurut data dari National Geographic, negara maju menghasilkan lebih dari 50 persen sampah di dunia. Di sisi lain, Indonesia hingga kini masih tergolong sebagai pencemar laut terbesar di dunia, satu peringkat di bawah Tiongkok. Laporan ini menunjukan Indonesia menyumbang 187,2 juta ton sampah plastik per tahunnya.

Seluruh pihak ikut berperan dalam mengatasi permasalahan plastik tersebut. Peran sektor hulu seperti pengurangan atau penggantian plastik dalam produksi dan desain ulang produk menjadi faktor penting untuk inovasi pengurangan sampah plastik. Pada sektor hilir, upaya pengurangan sampah plastik dapat dilakukan melalui proses daur ulang dan kampanye pengurangan sampah satu kali pakai.

Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mendorong penerapan ekonomi sirkular (circular economy) untuk mencapai target perubahan iklim Indonesia termasuk di antaranya soal pengelolaan sampah. Ekonomi sirkular merupakan pendekatan secara industri terhadap praktik reduce, reuse, recycle yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah. Menurut Kementerian tersebut, penerapan ekonomi hijau dan sirkular dapat berpotensi menciptakan 4,4 juta lapangan pekerjaan baru pada tahun 2030, dimana tiga perempatnya dapat diisi oleh kaum perempuan. Ekonomi sirkular juga telah didukung oleh sektor privat dan publik.

Mendukung tata kelola yang lebih pengurangan sampah plastik dan merayakan Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2022, anggota Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi yang terdiri dari Belantara Foundation, Dompet Dhuafa, Climateworks Centre, Greeneration Foundation, dan Filantropi Indonesia mengusung tema besar #AsikTanpaSampahPlastik. Rangkaian kegiatan berlangsung dari tanggal 11 hingga 22 April 2022. Gerakan ini juga mendukung gerakan sebelumnya pada tahun 2020 dengan tagline yang hampir sama, yakni ‘Kurban Asik Tanpa Sampah Plastik’.

Rangkaian kegiatan #AsikTanpaSampahPlastik juga didukung oleh berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan para anggota Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi. 

 

Dompet Dhuafa Volunteer yang kini memiliki anggota sebanyak 17 ribu anggota di berbagai daerah, akan menggelorakan gerakan untuk mengedukasi masyarakat dalam mengganti plastik menjadi kemasan ramah lingkungan dalam pelaksanaan kurban saat Iduladha di seluruh daerah. Alternatif yang digunakan sebagai pengganti kantong plastik. Ada yang menggunakan besek, keranjang bambu (bongsang), daun jati, daun pisang, plastik daun singkong dan kemasan lainnya yang juga dapat mengangkat kearifan lokal.

 

Sejalan dengan hal tersebut, Greeneration Foundation terus mendorong dan mengkampanyekan isu pengelolaan sampah kepada berbagai pihak sehingga muncul kepedulian untuk bergerak bersama dalam mengelola sampah plastik. "Greeneration Foundation menyadari bahwa penggunaan plastik yang semakin masif menyebabkan percepatan terjadinya perubahan iklim. Kami mendorong peran dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mengatasi isu tersebut," ujar Vanessa Letizia, Direktur Eksekutif Greeneration Foundation. 

 

Dalam hal ini, Climateworks Centre juga melihat pentingnya berbagai inovasi bisnis dan teknologi yang dilakukan baik oleh industri besar maupun industri start-up dalam mengurangi sampah plastik. “Kami juga mendukung misi pemerintah mengedepankan ekonomi sirkular sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut”, ujar Guntur Sutiyono, Indonesia Country Lead ClimateWorks Centre.

“Sebagai lembaga filantropi, kami sangat mendorong upaya pengurangan sampah plastik sebagai kontribusi bersama pencapaian SDGs, untuk memperkuat Filantropi HUB di Indonesia”, ujar Gusman Yahya, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation sebagai Koordinator Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi Filantropi Indonesia menambahkan bahwa upaya penanganan plastik perlu didorong dengan kolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai sektor sehingga berdampak kepada perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah terutama sampah plastik.

 

Rangkaian acara #AsikTanpaSampahPlastik yang telah dilakukan antara lain talkshow “Strategi Pengelolaan Sampah Plastik dari Hulu ke Hilir” dan "Kenapa Plastik Berdampak kepada Iklim Kita?". Dalam talkshow yang diselenggarakan pada 20 April 2022 ini, turut hadir sebagai narasumber yaitu Head of Program Greeneration Foundation, Fahrian Yovantra; CEO dan Co-founder QYOS, Fazrin Raham; Direktur Zona Madina Dompet Dhuafa, Udhi Tri Kurniawan dan Sustainability Analyst Tetra Park Indonesia, Fatma Nur Rosana.

 
Leave a Comment