Blog Belantara

Talk Show Gerakan #AsikTanpaSampahPlastik: Kenapa Plastik Berdampak Kepada Iklim Kita?

Memanfaatkan momentum #HariBumi2022, Klaster Lingkungan Hidup dan Konservasi Filantropi Indonesia menginisiasi gerakan #AsikTanpaSampahPlastik untuk mengajak masyarakat mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan tanpa penggunaan plastik sekali pakai. Gerakan #AsikTanpaSampahPlastik terdiri dari serangkaian kegiatan online dan offline dalam bentuk IG Live, Talk Show, Demo Eco-Enzyme, dan juga edukasi ke pelajar SMP dan SMA Jakarta. 

 

Talk Show Sesi 1 berjudul “Plastik dan Perubahan Iklim” dilaksanakan pada Rabu (13/04) dengan menghadirkan Jannata Giwangkara, Senior Project Manager dari Climateworks Centre; Chandra Sugarda, Spesialis Gender dan Inklusi Sosial UNDP; dan Novita Natalia, Community Manager Bicara Udara sebagai narasumber. Pembahasan dalam topik ini berfokus pada kondisi limbah plastik yang saat ini menimbulkan permasalahan lingkungan yang besar. Selain menciptakan kerusakan lingkungan yang masif dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama, limbah plastik dan produksi plastik juga ternyata memiliki andil dalam percepatan kondisi perubahan iklim kita saat ini.

 

“Lebih dari 99% jenis plastik itu dibuat dari bahan petrokimia yang umumnya berasal dari minyak bumi dan juga gas alam. Bahan baku ini disuling untuk membuat senyawa kimia dasar pembuatan plastik diantaranya etilena, propilena, butena dan bahan dasar lainnya sebelum kemudian diproduksi dan diangkut ke pabrik” tegas Janata.

 

Selain itu Janata juga menambahkan bahwa bukan hanya bahan dasar plastik saja yang menggunakan minyak bumi dan gas alam, namun pada proses pembuatan dan pendistribusian plastiknya pun membutuhkan energi yang sangat besar yang juga bergantung pada energi fossil. Kegiatan ini juga menyumbang jejak karbon yang sangat besar dan mengakibatkan efek rumah kaca.

 

“Ada survei mengatakan bahwa sekitar 54,67% rumah tangga itu masih membakar sampahnya. Proses pembakaran sampah ini juga ternyata memberikan dampak pada lingkungan. Pembakaran sampah ini juga menimbulkan gas rumah kaca” tambah Novia.

 

Novita menambahkan, bahwa hasil dari pembakaran sampah ini sebenarnya bukan hanya berdampak pada perubahan iklim namun juga berdampak pada kesehatan masyarakat itu sendiri. Untuk itu sangat diperlukan edukasi kepada masyarakat bahwa pentingnya memilah sampah dan tidak melakukan pembakaran sampah.

 

Adapun Chandra memberikan pandangan sosial dalam pengelolaan limbah plastik dan perubahan iklim dalam perspektif gender. Secara sosial budaya, perempuan lebih banyak ditempatkan pada ranah domestik dan mengurus rumah tangga, bahkan pada perempuan yang bekerja sekalipun. Perempuan memiliki peran yang besar dalam memilih produk-produk ramah lingkungan atau tidak ramah lingkungan untuk keluarganya.

“Dari sisi pengelolaan limbah, perempuan lebih banyak berperan dalam tahap reproduksinya. Di dalam rumah tangga, sebagai orang yang bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga, biasanya perempuan yang menentukan pembuangan limbahnya mau seperti apa, termasuk pemisahannya. Kemudian sebagai anggota rumah tangga yang banyak melakukan pembelian barang kebutuhan rumah tangga, perempuan punya kontribusi besar dalam memilih barang dan limbah yang dihasilkan dari pembeliannya”.

 

TalkShow ini terbuka untuk masyarakat umum, mahasiswa, akademisi jurnalis dsb, dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan dapat ditonton kembali di akun YouTube Channel Filantropi TV https://www.youtube.com/watch?v=w-E_BG-_WAs

 
Leave a Comment